TOLERANSI HARGA MATI
“Di dalam konsep demokrasi, agama adalah hak. Artinya ia boleh dipakai, boleh tidak. Negara tidak berhak memaksakan kewajiban beragama, karena hal itu melanggar kebebasan hati nurani.”
–Rocky Gerung, Pidato Kebudayaan 2010 Dewan Kesenian Jakarta-
Tiga pemeluk Ahmadiyah dibantai oleh massa yang mengatasnamakan Islam pada hari Minggu pagi 6 Februari 2011 di Pandeglang, Banten, Jawa Barat. Tubuh setengah telanjang itu terbujur kaku tak berdaya dihantam lemparan batu dan pukulan bambu dari massa yang membabi buta dan berteriak-teriak “Allahuakbar!”. Sebuah peristiwa yang jauh dari perikemanusiaan, akal sehat, bahkan nilai-nilai ketuhanan. Sebuah tragedi yang mengingatkan kita pada pembantaian di masa silam, sesuatu yang sebetulnya tidak perlu terulang.
Pembunuhan dan pembantaian tidak dapat diterima, apapun alasannya. Agama telah menjadi legitimasi bagi terjadinya berbagai peristiwa kekerasan di Indonesia akhir-akhir ini. Sementara itu pemerintahan rezim Susilo Bambang Yudhoyono yang dipercaya menegakkan demokrasi, telah gagal melindungi hak-hak asasi warga negara Indonesia untuk memeluk agama dan kepercayaan sesuai keyakinan.
Senin, 7 Februari 2011, sejumlah massa yang terdiri dari aktivis Hak Asasi Manusia dan aktivis kebudayaan melaksanakan aksi damai di depan Istana Negara. Mereka mengutuk tindak pembantaian terhadap jamaah Ahmadiyah di Desa Cikeusik yang dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan Islam itu. Massa berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia kemudian dilanjutkan dengan aksi serupa di depan istana kepresidenan. Mereka menuntut pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono untuk bersikap tegas menyikapi tragedi itu. Aksi ini sekaligus menunjukkan ketidakberdayaan pemerintah Republik Indonesia dalam menegakkan hak-hak warga yang telah diamanatkan konstitusi. “Bubarkan FPI! (Front Pembela Islam)”, “Demokrasi Yes! FPI No!”, “SBY Gagal!” adalah beberapa jargon yang diteriakkan dalam aksi tersebut.
Melalui aksi ini, segenap elemen dalam masyarakat, seperti seniman, budayawan, mahasiswa, dan kelompok intelektual diharapkan bersatu dalam melawan kekerasan atas nama agama di tanah air Indonesia. Segenap upaya, sekecil dan sesederhana apapun, sangat dibutuhkan untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya perdamaian dan toleransi.
(Ibnu Rizal)
keterangan foto:
Seniman grafiti Andi RHARHARHA melakukan performance dengan menulis kalimat “Negara Gagal SBY Bohong” dan “Bubarkan FPI” di atas aspal di depan Istana Negara dengan menggunakan lakban putih saat aksi solidaritas, Senin 7 Februari 2011.
foto: diambil dari twitter@whisnuyonar dan @ANDIRHARHARHA


