OPENING 1001 DOORS EXHIBITION-JAKARTA CONTEMPORARY ART

Jalan Buntu, Lorong Sempit, The Power of Respecta

Apakah yang menarik dari sebuah pintu? Pintu, sebagai elemen utama dari sebuah konstruksi bangunan, digunakan sebagai jalan masuk dari satu ruang ke ruang lain, dari satu keadaan ke keadaan lain. Ia menjadi pemisah satu dunia, satu realitas, dengan dunia atau realitas lainnya. Pintu menjadi penanda terjadinya transisi, perpindahan, harapan. Pameran 1001 Doors “Reinterpreting Traditions” mencoba mengeksplorasi “pintu” baik dalam tataran fungsional maupun konseptual. Pameran ini dikuratori oleh Asmudjo Jono Irianto dan melibatkan ratusan seniman individu dan kelompok dari berbagai latar belakang disiplin dan generasi. Sebuah pameran yang terkesan cukup “serakah” dan ambisius sehingga berpotensi kehilangan fokus. Pameran ini terlampau besar dan tidak memiliki pengikat gagasan yang kuat sehingga karya-karya yang dipamerkan seakan berdiri sendiri-sendiri, terpecah-pecah berserakan. 1001 Doors dibuka oleh Gubernur Fauzi Bowo pada 26 Januari 2011 di Ciputra Marketing Gallery, sebuah galeri komersil baru di Jakarta.

Kembali pada gagasan tentang pintu yang diangkat oleh pameran ini, kita menyaksikan apa yang ditawarkan oleh kelompok Respecta Street Art Gallery. Kelompok ini menanggapi gagasan mengenai pintu dengan menghadirkan sebuah karya yang dapat digolongkan sebagai karya instalasi berjudul The Power of Respecta (2010). Karya instalasi ini adalah karya kolaborasi beberapa seniman dan menghadirkan berbagai medium, seperti stensil, stiker, grafiti, poster, dan lampu neon. Instalasi ini dibuat pada salah satu sudut galeri; sebuah ceruk kosong yang sempit, yang biasanya digunakan sebagai pintu keluar darurat dari ruang galeri. Tetapi pintu itu terkunci rapat. Lorong itu begitu sempit dan sesak oleh gempuran citraan pada dinding. Ceruk gelap itu hanya disinari oleh cahaya dari lampu neon, mengingatkan kita pada suasana temaram di sebuah gang sempit di pemukiman padat tengah kota.

Melalui karya ini dapat dilihat bagaimana Respecta menyikapi gagasan mengenai pintu: sebuah jalan buntu. Sebuah cul-de-sac. Pintu seperti tidak membawa kita kemanapun. Pintu darurat itu terkunci dan ditiban oleh berbagai stiker dan poster, juga coretan grafiti Popo, Andi RHARHARHA, Bujangn Urban, dan kawan-kawan. Tidak ada harapan yang menjanjikan. Tidak ada jalan keluar yang bisa diberikan. Yang ada hanyalah kesempatan untuk menikmati citraan dan teks yang memenuhi dinding sempit itu. Konsep mengenai pintu sebagai sebuah perangkat yang menjanjikan perpindahan, perubahan, dan transformasi, dengan demikian dikesampingkan dalam karya ini. Lantas apa yang kemudian dirayakan adalah sebuah kemeriahan tanda dalam sebuah ceruk yang sempit, sebuah lorong temaram yang memungkinkan hadirnya keintiman, juga kejujuran.

(Ibnu Rizal)

OPENING 1001 DOORS EXHIBITION-JAKARTA CONTEMPORARY ART @WORLD MARKETING CIPUTRA GALLERY

RESPECTA COMRADE _Collaboration in Action Man:MADE FAKE,JAH IPUL,ROSETA,RHARHARHA,POPO,robowobo,BUJANGAN URBAN,MEDIA LEGAL,ARFX,SSST…& GOOODIT

Thanks buat Bang Fauzi Bowo RESPECT MAN :)

Thanks buat  Ibnu Rizal atas tulisanya .

photos by RHARHARHA-RESPECTA DOC.2011

Share and Enjoy:
  • Print
  • PDF
  • email
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Tumblr
  • Ping.fm
  • Digg
  • Yahoo! Buzz
  • Google Bookmarks
Leave A Comment